Tuesday, June 26, 2012

Matteo convo #2

Tadi pagi-pagi sekali, Matteo masih di kasur, tiba-tiba nangis sambil kedua matanya merem.

"kualin (keluarin)  mamaaa...kualiinn ini..." *sambil mengusap matanya yang masih merem*

saya bingung. duduk di depannya berpikir keras seperti biasa menangkap maksud Matteo apa.

"ini mamaa..kualiiiinnn iniiii...." Matteo mulai agak kesal karena saya gak ngerti.

 "keluarin apanya nak? yang mana mau dikeluarin? Oooo air mata kamu keluar ya? makanya jangan nangis. nanti matanya lengket".

"kuuuaaallll mamaaa" makin kesal dia. Sepertinya Matteo bingung sendiri dengan koleksi kata-katanya. Saya makin panik. 

"ooohh Matteo mau buka mata?? coba sini mama liat kenapa mata Matteo gak bisa dibuka"

Setelah dicek sepertinya banyak belek lengket di mata Matteo.

Buru-buru saya suruh si mbak panasin air di panci sedikit, dan saya ambil washlap. Lalu setelah kira-kira hangat saya celupkan washlap dan tutul-tutul ke mata Matteo yang lengket.

"Ini BUKA namanya...bukan KELUAR. Matteo mau BUKA mata" saya jelaskan sambil melap matanya.

"buka mama...buka mama..." Matteo ikutin kata-kata saya. Jadi kira-kira dia sudah ngerti pemakaian kata yang benar. semoga ya :p

Setelah dilap agak lama. Matteo masih belum bisa buka matanya dan sepertinya mau nangis lagi. 

"coba duduk. Matteo ayo duduk dulu, jangan tidur begitu biar bisa kebuka matanya"

Matteo duduk. pelan-pelan dia bisa buka kedua matanya.

"Kaaaann bisa kaaannn" saya senang. Matteo senyum.

...................................................................................................

Yep. masalah bahasa akhir-akhir ini kadang jadi pe-er saya berkomunikasi dengan Matteo. Kosakatanya semakin banyak tapi kadang pengucapannya belum benar atau salah penempatan katanya. Dan Matteo nangis kalau saya atau siapa saja tidak mengerti apa yang diucapkannya. Jadi mau gak mau saya harus putar otak begitu menemukan kata yang saya tidak mengerti. Pokoknya saya harus bisa tahu maksud kata yang diucapkan Matteo, baru dia gak merengek lagi.

Setelah kejadian itu seperti biasa Matteo mengantar saya berangkat ke kantor. Begitu keluar pintu, Matteo menunjuk pintu depan apartemen yang bersalur-salur dan entah apa yang ada di imajinasinya,

"Mama kapik mama...kapik...kapik..."

Lagi-lagi saya bengong. seperti biasa mencoba menangkap arti kata-katanya.

Matteo tahu kalau saya gak paham. lalu dia ngoceh lagi, "bateflai mama..bateflaiiii" (butterfly)

oohh tau saya kalau dia bilang kupu-kupu, yang tadi itu maksudnya kepik. 

"oiyaa nak, mirip kepik yaaa..." 

Matteo senyum. saya masih berpikir astagaa kok bisa ya guratan pintu dibilang kepik. ah sutralah yang penting saya ngerti maksud Matteo apa dan bisa pergi tanpa tangisan hihihi :)