Tuesday, August 23, 2011

a note to Romo Frans

Setiap orang pasti memiliki kenangan. entah itu kenangan manis, pahit, hambar sekalipun, jika diceritakan kembali dengan orang yang mengalami peristiwa itu, pasti berakhir dengan tertawa bersama dan menyadari bahwa kejadian itu sungguh membekas dan menyisakan rasa kangen.

Ketika saya mendapat kabar tentang meninggalnya Romo Frans Pranata, tiba-tiba saya seperti diserang kangen. Saat itu saya tidak ingin menertawakan kenangan bersama beliau, tapi justru ingin memeluk kenangan itu dan menulisnya disini supaya kenangan itu tetap ada dan tidak akan pernah habis dikenang...

Saya bukan bagian dari keluarganya ataupun salah satu umat yang memiliki hubungan dekat dengan beliau. Saya hanyalah bekas muridnya, murid yang dulu pernah duduk di aula bersama-sama dengan 3 kelas lainnya untuk belajar mata kuliah Logika dengan Romo Frans sebagai dosennya. Itu kisah dulu, jaman saya masih kuliah sekitar tahun 2000.

10 tahun kemudian...

Ketika saya sudah berkeluarga dan baru saja memiliki bayi mungil usia 7 bulan. Saya tidak pernah menyangka bakal bertemu lagi dengan Romo Frans di rumah kami. Ya, rumah mungil yang kami sewa di tengah kota. Dan Romo Frans duduk di situ, di antara warga lingkungan yang bersama-sama mengucap syukur karena waktu itu rumah kami yang mendapat giliran ketempatan.

Sempat saya berbincang sedikit dengan Romo Frans sambil menunggu warga satu per satu datang ke rumah kami. Saya bilang gini,

"Romo, saya ini murid Romo waktu kuliah dulu. Romo pasti lupa ya. Saya mau ngaku dosa sekarang gapapa kan mo? waktu dulu Romo ngajar mata kuliah Logika saya gak pernah dengerin Romo, saya seringnya tidur".

Lalu kata Romo Frans, "lebih baik tidur daripada ngobrol mengganggu temannya"...

Nah persis! persis seperti itulah kata-kata itu yang diucapkan Romo Frans 10 tahun lalu di aula di depan puluhan murid perempuan waktu memberikan mata kuliah Logika dimana kebanyakan anak didiknya pada sibuk sendiri sambil mengeluarkan suara ngobrol mendengung tidak menggubris penjelasan Romo. Dan seperti yang sudah saya katakan kepada beliau langsung malam itu, saya memilih 'mengheningkan cipta' alias tidur.

..................................................................................................................

Saat itu ketika Romo Frans selesai memimpin ibadat dan melanjutkan sesi tanya jawab tanpa batas waktu dengan warga lingkungan, saya baru menyadari bahwa memang sejatinya Romo Frans Pranata adalah orang yang sederhana, sabar, rendah hati dan mengayomi. Tidak ada yang berubah walaupun sudah 10 tahun yang lalu terakhir saya bertatap muka dengan beliau.

Romo Frans dengan sabar meladeni pertanyaan-pertanyaan warga yang bermacam-macam tanpa terlihat menyepelekan pertanyaan kami yang sangat awam. Dan dari roman mukanya tidak tampak beliau kepanasan, padahal saya sendiri agak khawatir bakalan tidak nyaman karena rumah kami begitu mungil dan hemat ventilasi sehingga hawanya sangat gerah.

Ternyata sesi tanya jawab santai itu berlangsung lama. Bahkan ada yang mencandai Romo dengan celetukan: Romo, kita tanya jawab sampai bosen ya, kalau kita belum bosen, Romo belum boleh pulang. Dan Romo Frans hanya tersenyum tenang sepertinya setuju-setuju saja. Sungguh beliau sosok yang sabar....

Dan kemarin malam adalah hari terakhir saya menjumpai beliau yang terbaring tenang, terpejam dengan tangan terkatup di dada, di dalam kotak peti yang diletakkan di depan altar.

Beliau wafat karena sakit jantung yang mendadak menyerangnya hari Minggu sore. Di usianya yang menjelang 70 tahun, beliau kembali ke pangkuan Bapa.

Benar seperti yang dikatakan Pastur yang memimpin misa requiem kemaren malam, bahwa hidup adalah perjalanan. Romo Frans dalam perjalanannya di dunia ibarat hanya mampir minum. Beliau bukan hanya minum, tetapi karena cintanya yang besar, beliau pun juga memberikan air minumnya untuk umat gembalaannya...

Selamat jalan Romo FX Pranataseputra, terima kasih sudah mau berbagi 'air minum' yang amat menyejukkan kepada kami....