Thursday, December 9, 2010

The Urban Mama: Seperti Orang Tua Sendiri

"Jiahh belum tau dia repotnya ngurus anak, gaya looo"

Respon itu yang saya dapat ketika dia tanya: nanti kamu tinggal dimana Cyn abis lahiran? rumah nyokap kan? lalu saya jawab tanpa dosa: gak, gue pulang ke rumah sendiri.

Dia adalah lawan chatting saya di YM. salah satu dari sekian teman baik, seorang ibu bekerja yang punya dua anak laki-laki, satu sekolah TK, satu lagi masih balita. Kebetulan tinggal dekat dengan orang tuanya. Menurut ceritanya, dulu waktu melahirkan anak pertama repotnya bukan main, untung ada ibunya yang jadi mentor sekaligus teman curhat mengurus anak.

Obrolan di YM itu terjadi ketika saya sedang hamil 7 bulan anak pertama. Pengalaman tentang urus anak masih nihil. Rumah yang saya tinggali sekarang pun jauh dari orang tua. Tapi walau begitu saya dan suami bertekad sampai lahiran anak nanti tetap tinggal di atap yang sama, tanpa nebeng ataupun 'digondeli' orang tua.

Hati saya mengkeret ketika membaca balasan YMnya. Panik membuat saya kepikiran dan terciptalah permainan tanya jawab yang dikarang oleh otak saya sendiri.

Tanya: apa iya segitu repotnya ngurus anak? Jawab: tapi kan nanti sewa pengasuh untuk bantuin. Tanya: kalau anaknya nangis terus? Jawab: kan tinggal disusuin. Tanya: kalau anak sakit tengah malem? Jawab: kan tinggal ke dokter besoknya. Tanya: emang bedong bayi segitu susahnya? Jawab: ah gampang ntar juga lama-lama bisa.

Saya berusaha untuk tidak ambil peduli sambil berusaha keluar dari permainan tanya jawab yang semakin ngeri. Lihat saja nanti, begitu pikir saya.

....................................................................................

Kamis, 11 februari 2010. Matteo, anak pertama kami lahir dengan cara normal. Bahagianya kami bisa membawa si kecil pulang setelah menginap 3 hari di rumah sakit. Semangat untuk memberikan full ASI kepadanya pun masih melambung tinggi.

Hari pertama di rumah sekaligus hari keempat setelah Matteo lahir, hati saya mulai tak tenang. ASI yang keluar belum banyak, dan Matteo selalu nangis keras seperti putus asa karena setiap kali mau menyusu hanya sedikit ASI yang bisa diteguknya. Badai panik menyerang perasaan saya, takut kalau tidak bisa memberi ASI sesuai harapan.

Saya jadi teringat obrolan dengan teman waktu itu, mungkin ini yang dia maksud pentingnya tinggal dengan orang tua di saat seperti ini, karena kehadiran dan pengalaman mereka pasti bisa menentramkan senewen saya. Untunglah saat itu ibu mertua mau menginap di rumah menemani saya pasca melahirkan.

Diam-diam ketika Matteo tidur, saya buka internet untuk mencari info masalah ASI ini, dan di situlah pertama kali saya menemukan web The Urban Mama (TUM).

Takjub dengan topik yang lengkap tentang bayi dan dunianya, saya pun asyik membuka forum Baby satu per satu. Dan masalah breastfeeding saya pun terjawab disini.

Saya telusuri lagi forum tentang topik tersebut hingga sampai terkesan dengan para mama yang sharing di forum itu kok kayaknya asik-asik ya orangnya, gak pelit info dan yang paling penting gak pernah ada komentar 'menghakimi' apabila ada ibu lainnya yang tidak bisa kasih ASI. Ternyata setelah saya intip tagline TUM, "there is always a different story in every parenting style", Saya pun membatin, pantesss...

Sebulan berlalu, mertua saya pun kembali ke rumahnya sendiri. Masalah ASI saya muncul lagi. Kali ini bukan kuantitasnya, tapi entah kenapa Matteo tiba-tiba ngamuk tidak mau menyusu langsung dari payudara saya. Saya sudah tahu tentang bingung puting. tapi masalah yang terjadi sekarang agak sedikit berbeda.

Lalu saya coba mendaftar jadi member TUM dan melemparkan masalah ini ke thread bingung puting. Eee yang ada malah keluh kesah saya dijadikan thread baru oleh moderator dengan topik Nursing Strike. jujur ini kosakata baru banget buat saya dan ternyata ciri-cirinya persis seperti yang dialami Matteo. TUM is really helpful, saya peluk laptop suami saking girangnya.

Sejak itu TUM memberikan efek dahsyat dalam kehidupan baru saya menjadi seorang ibu. Saya jadi tahu apa itu clodi, babywrap yang bikin penasaran (setelah saya beli dan berguna banget, lagi-lagi saya beruntung kenal TUM), lalu info baby swimming yang akhirnya dengan semangat kita wujudkan untuk Matteo waktu itu, belum lagi treatment batuk pilek bayi yang bermanfaat buat ibu awam seperti saya.

Karena di rumah sering buka web TUM, suami pun ketularan. Kalau Matteo rewel sedikit, langsung nyeletuk, "tanya TUM aja kenapa". Dalam hati saya tahu banget belum sempet nanya sudah pasti ada bahasannya. Ibaratnya, web TUM semacam kamus bayi online! apapun masalah bayi dan keluarga, pasti ada solusinya.

Sungguh, kehadiran TUM di jagad maya sudah seperti sahabat sekaligus orang tua virtual. Sekarang saya sudah tidak ciut lagi mengurus anak sendiri tanpa bantuan orang tua. Tidak pernah lagi kepikiran tentang sindiran teman waktu itu, karena ada TUM yang tahu segala tentang anak seperti layaknya ibu sendiri.

Dan menjelang hari ulang tahunnya, saya hanya bisa sampaikan doa dan ucapan:

Happy 1st anniversary TUM

for me you're not just The Urban Mama, but The Utmost Mama :)

The Urban Mama Writing Contest