Thursday, April 16, 2009

kuat seperti ibu

kali ini tentang seorang ibu. ibu yang menghabiskan hari-harinya di sebuah bangunan kayu beratap ukuran 3 x 3 meter. ya bangunan sebesar warung rokok pinggir jalan. memang disitulah dia hidup, makan, tidur, sholat, nonton tv, memasak disitu. di warung rokok tak jauh dari tempat saya tinggal.

ibu yang sangat mandiri. pagi subuh dia sudah bangun, sholat, lalu menyiapkan dagangan yang tertata di depan mata. anak dan saudara semua tinggal di jawa, katanya. teman ngobrolnya adalah ibu tua yang setiap hari menitipkan dagangan berupa gorengan, atau para bapak-bapak supir taksi yang mampir untuk minum kopi dan melepas penat sejenak di warung ibu.

hampir setiap hari saya lewat di depan mulut gang tempat warung ibu itu berada. dan banyak sudah kejadian yang saya tahu setiap kali saya lewat dan menyapanya.

suatu pagi muka si ibu kelihatan lelah, seperti habis begadang. ketika saya tanya "ibu kenapa? habis sakit?", dia bilang sudah dua hari dia tidak bisa tidur karena bau bangkai tingkus yang tidak kunjung hilang, entah dimana tikus mati itu berada, sudah diobrak-abrik tidak ketemu juga.

saya hanya bisa ber-ooh kecil mengingat ukuran kamar sewa saya yang tidak memadai untuk ditiduri berdua dengan ibu.

pernah suatu sore ketika saya pulang kerja, saya lihat warung ibu gelap sekali. lilin kecil menyala di sela-sela tumpukkan dagangannya. "kenapa lampunya bu?" tanya saya. dia jawab lampu neon besar mati. dan dia sedang menunggu salah satu dari supir taksi yang sering mampir minum kopi untuk dimintai tolong memasang lampu.

lagi-lagi saya ber ooh kecil, dan tidak bisa membantu.

lalu lain lagi cerita. waktu itu warung ibu tutup beberapa minggu karena lebaran. si ibu pulang kampung. ketika saya sedang lewat di depan warung ibu, saya lihat barang dagangan ibu berantakan. beberapa pak rokok bermacam merk berserakan di lantai. "lho bu ada apa? kok berantakan" ujar saya heran. sambil memilih-milih pak rokok dia bilang kalau selama ditinggal pulang kampung, warung rokoknya diserbu tikus, sampai-sampai bungkus rokok yang masih disegel pun digigiti tikus hingga rusak. "wah rugi saya kalau gini, dasar tikus kurang ajar" kata si ibu antara kesal dan kecewa.

dan saya masih ber ooh kecil, karena tidak ada yang bisa saya lakukan.

hinggapada suatu pagi, saya putuskan untuk menyempatkan diri menyapa si ibu secara khusus. saya sudah berencana akan mampir ke warung rokoknya dan membeli beberapa gorengan untuk sarapan di kantor.

benar saja, ketika saya sengaja berlama-lama memilih gorengan, si ibu seperti mendapat teman untuk bercerita. kisah apa saja keluar dari mulutnya. tentang anaknya yang dibawa lari oleh laki-laki tak bertanggung jawab, tentang sayur kacang panjang yang masih utuh dan baru dimakannya sedikit lalu tiba-tiba kakinya ngilu, asam uratnya kambuh; tentang semalam tidurnya terjaga karena tiba-tiba hujan deras dan dia takut warungnya kebanjiran, sungguh banyak sekali cerita yang keluar dari mulutnya.

saya hanya mendengarkan....sesekali mengangguk...tersenyum menimpali...

ibu, maafkan saya ya...dari sekian banyak peristiwa yang ibu alami, saya hanya mendengarkan cerita-ceritamu. saya janji setiap kali saya lewat warung ibu, akan saya sempatkan berhenti paling tidak 5 menit saja untuk mendengarkan ceritamu hari ini.


i only have a smile and hi to cheer your day, be tough as always :-)