Thursday, February 19, 2009

Mbah Kung

Waktu itu saya masih kelas dua sd. Jarak sekolah dan rumah lumayan dekat, mobil masih langka-motor pun masih jadi barang mewah. Ojek belum sepopuler sekarang, hanya angkot saja yang jadi andalan untuk bepergian.

Saya bersama dua teman, berjalan kaki berangkat sekolah ditemani Mbah Kung. Mbah Kung aslinya berdomisili di salah satu kota Jawa Tengah, tapi beliau sering ke Jakarta mengunjungi cucu-cucu tercinta, ehm tentu saja saya. teman-teman saya pun kenal Mbah Kung, orang tua yang suka bercanda versi jail, suka gangguin cucunya main masak-masakkan, suka ngumpetin boneka cucunya, termasuk teman-teman saya juga sering bersuara kesal "aaaa embaah bola bekelnya jangan diumpetin doongg!!!". Benar-benar kakek yang kurang hiburan. hehe.

yang saya ingat waktu itu rambut masih berponi, sepatu kung-fu-tipis-beludru, tas tali panjang menghadap ke belakang, begitu kira-kira gaya saya kelas dua sd dulu. Diantar ke sekolah, Mbah Kung berjalan di belakang mengikuti kami bertiga menyusuri tepi jalan. Sambil ngobrol tertawa-tawa, kadang Mbah Kung mengingatkan awas ada mobil, minggir nduk. Saya dan teman-teman minggir lalu tertawa-tawa girang lagi.

Ketika sampai di sekolah, sebelum masuk ke kelas, saya dadah-dadah Mbah Kung dulu dan Mbah Kung pun pergi pulang ke rumah lagi.

Dan pelajaran pun dimulai. Saya ambil buku catatan, ritsleting tas saya buka. Astaga! tas sekolah saya penuh daun! hampir nangis saya waktu itu, karna seingat saya tadi malam pas siapin buku-buku ga ada satupun pe er suruh bawa daun.

Lalu saya coba mengingat..ingat lagi...ingat terus...Mbah Kung! iya, ini pasti ulah Mbah Kung! lalu saya flashbacked hmmm kapan ya kira-kira Mbah Kung taruh daun di tas?

Tapi kali ini bukan ingatan tentang kejailan Mbah Kung. Ini tentang Mbah Kung yang sedang terbaring sakit. melihatnya tidur lemah sepanjang hari membawa pikiran saya ke masa kecil dulu.

Dokter bilang terlalu banyak penyakit di dalam tubuhnya. Mengingat kondisi Mbah Kung yang sudah semakin renta, dokter pun tidak berani ambil resiko. Mbah Kung tidak pernah tahu daging besar yang tumbuh di lehernya itu akan terus membesar. Mbah Kung tidak akan pernah menemukan jawaban mengapa akhir-akhir ini sering pipis saat tidur malam, atau batuk berdarah tiba-tiba, bahkan jatuh dari tempat tidur.

Saya hanya menelan iba melihat matanya yang bening kelabu. Saya harus menyuntikkan semangatnya dengan senyuman setiap kali memandangnya dan hanya bisa memohon,


Tuhan, berikan yang terbaik untuk kesehatan Mbah Kung....


*Mbah Kung akhirnya 'menghadap' tgl 26 Maret 2009. slamat jalan Mbah Kung, doa kami menyertaimu..